Tanggal 15 Oktober diperingati sebagai hari Cuci Tangan Pakai Sabun
(CTPS) sedunia. CTPS merupakan salah satu strategi nasional STBM (Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat) disamping STOP BAB sembarangan, pengelolaan air minum
rumah tangga (PAM RT), pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengolahan limbah
rumah tangga. Konsep umum tentang cuci tangan yang bersih masih pada seputaran
mencuci tangan dengan menggunakan air saja tanpa perlu harus menggunakan sabun.
Sementara itu kampanye promosi perilaku cuci tangan yang dilakukan beberapa
tahun di Indonesia belum menghasilkan perilaku yang diharapkan.
Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah salah satu indikator Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). CTPS secara ilmiah terbukti dapat mencegah
penyebaran penyakit menular yang disebabkan oleh kuman, bakteri, dan parasit,
seperti : Kecacingan, Diare, ISPA, Flu Burung, dan TBC. Angka kejadian Diare
dan ISPA di wilayah Puskesmas Danasari masih tinggi, oleh karena itu penting
untuk menyebarluaskan pesan CTPS untuk mencegah penyebaran kedua penyakit
tersebut. Kajian oleh Curtis dan Cairncross (2003), CTPS setelah bersentuhan
dengan tinja dapat menurunkan angka kejadian diare sebesar 42-47%.
Berkaitan dengan hal tersebut, komitmen Indonesia untuk mencapai MDG’s
4 adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi dan anak di bawah usia 5
tahun hingga 23 per 1000 kelahiran hidup di tahun 2015, salah satunya dengan momen
internasional seperti HCTPS sebagai aksi advokasi kepada pemerintah daerah
sekaligus upaya promotif terhadap perilaku CTPS agar menjadi budaya bangsa
Indonesia, sehingga angka kematian dan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh
lingkungan dapat dikurangi.
Fokus penyampaian pesan CTPS adalah anak-anak usia sekolah dasar,
kader-kader kesehatan, tenaga profesional kesehatan, dan ibu-ibu yang
aktivitasnya banyak bersentuhan dengan pengelolaan makanan. Selain itu, pesan
ini juga perlu disampaikan kepada masyarakat yang beraktivitas di sekitar
pertanian dan peternakan. Hal ini disebabkan mereka merupakan kelompok risiko
tinggi yang dapat menularkan berbagai virus, bakteri, dan telur cacing.
Tenaga profesional kesehatan juga penting untuk memperhatikan CTPS
pada setiap melakukan aktivitas pelayanan kepada masyarakat, karena petugas
kesehatan berisiko tinggi menjadi penyebab penularan kuman penyakit dari pasien
ke pasien yang lain.
Waktu kritis CTPS adalah setelah Buang Air Besar (BAB), setelah buang
air kecil (BAK), setelah menceboki anak/bayi, sebelum makan, sebelum menyentuh,
menyiapkan, memasak, dan menyajikan makanan. Sehingga pada waktu tersebut
diharapkan cuci tangan menggunakan sabun.
Membiasakan anak-anak dan anggota keluarga lainnya untuk cuci tangan
pakai sabun sekaligus akan mengajarkan mereka untuk hidup sehat sejak dini.
Dengan demikian pola hidup bersih dan sehat akan tertanam kuat dalam diri
pribadi anak-anak dan anggota keluarga kita. Cuci tangan pakai sabun hanya
membutuhkan waktu dua puluh detik dan tidak memerlukan biaya yang besar karena
hanya membutuhkan sabun dan air mengalir. Mari bersama menyebarluaskan dan
mempraktekan perilaku cuci tangan pakai sabun di kalangan masyarakat, agar
hidup sehat dapat terwujud.
Oleh :
Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPT Puskesmas Tajurhalang