Selasa, 12 November 2019

Generasi Sehat, Indonesia Unggul


Hari Kesehatan Nasional (HKN)  diperingati pada tanggal 12 November setiap tahunnya. Peringatan HKN tahun 2019 merupakan peringatan HKN yang ke-55 dengan tema “Generasi Sehat, Indonesia Unggul”. Sebuah usia yang cukup mapan untuk kembali merivew perjalanan pembangunan kesehatan Indonesia selama lebih dari setengah abad. Momentum ini sebagai pengingat publik bahwa kesehatan harus bergerak dari wilayah kuratif ke arah Promotif Preventif. Dan hal ini merupakan tanggung jawab semua komponen bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang sehat lahir bathin.

Hari Kesehatan Nasional sendiri bertujuan untuk mengajak masyarakat agar memiliki budaya hidup sehat dan meninggalkan kebiasaan atau perilaku yang kurang sehat. Peringatan HKN biasanya disambut dengan beragam rangkaian kegiatan kesehatan baik di pusat maupun daerah. Logo HKN tahun 2019 mempunyai maksud memvisualisasikan manusia sedang mengangkat kedua tangan yang menggambarkan gotong royong, bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan, dan garis tengah yang memiliki makna perjalanan dari bawah menuju ke atas. Yang bercerita mengenai alur menuju kesempurnaan (lingkaran), yang mengartikan perjalanan menuju keberhasilan untuk mencapai kualitas sumber daya manusia indonesia yang lebih sehat, produktif, mandiri, dan unggul.
Lingkaran mempunyai makna kesempurnaan, tidak terputus, tidak memiliki awal atau akhir, memilki kualitas, dapat diandalkan, sesuatu yang sempurna, serta kehidupan.

Tema HKN tahun 2019 merupakan salah satu bentuk pengaplikasian dari amanat yang diberikan oleh presiden tentang memprioritaskan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Dilansir dari sambutan Menteri Kesehatan, ada dua isu kesehatan yang harus diselesaikan terkait membangun SDM itu, yaitu stunting dan jaminan kesehatan nasional. Meskipun dalam 5 tahun terakhir angka stunting telah berhasil diturunkan hingga 10 persen, tetapi stunting masih menjadi permasalahan serius yang dihadapi masyarakat.

Stunting adalah kondisi tubuh seseorang yang mengalami tubuh lebih pendek dibanding dengan orang seusianya. Kondisi ini disebabkan oleh kekurangan gizi kronis sejak bayi. "Begitu juga dengan jaminan kesehatan yang masih banyak menuai permasalahan. Jaminan Kesehatan seperti BPJS misalnya masih belum sempurna. Tapi kita akan terus memperbaikinya dengan menghadirkan inovasi-inovasi kesehatan yang lebih baik," jelas Terawan Agus Putranto, Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam sambutannya.

Selain dua isu itu, yang juga akan menjadi fokus Kemenkes dalam 5 tahun mendatang adalah tingginya harga obat dan alat kesehatan, serta masih rendahnya penggunaan alat kesehatan buatan dalam negeri. Dilansir Kemenkes.go : momentum HKN ke-55 ini merupakan pengingat publik, kesehatan masyarakat akan meningkat jika ada kerja sama dari berbagai pihak, baik pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. HKN ini mengingatkan masyarakat untuk memprioritaskan upaya promotif-preventif dan semakin menggalakkan serta melembagakan Germas. Masyarakat semakin mengerti arti penting perilaku dan lingkungan sehat, serta melakukan gerakan hidup sehat, baik di keluarga, tempat kerja, tempat-tempat umum dan fasilitas lainnya.

Di beberapa daerah HKN dirayakan dengan melakukan berbagai kegiatan seperti Kelas Ibu Hamil,Senam Massal, Pameran Kesehatan, Deteksi Dini Penyakit Tidak menular (PTM), Sunatan Massal dan lain sebagainya.
Pada akhirnya pemerintah berharap generasi sehat yang diperjuangkan bersama dapat menjadi SDM Unggul yang akan mengisi 100 tahun Indonesia merdeka pada tahun 2045, yang bertepatan juga dengan bonus demografi akan mengantarkan Indonesia menjadi negara yang maju, makmur dan sejahtera.



Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Puskesmas Tajurhalang

Kamis, 10 Oktober 2019

Kesehatan Jiwa Tanggung Jawab Bersama


Pada tahun 2019 Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) telah menetapkan “pencegahan bunuh diri” sebagai tema utama Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati pada tanggal 10 Oktober 2019.
Presiden WFMH (World Federation for Mental Health) Alberto Trimboli PhD mengingatkan, tindakan bunuh diri (suicidal behaviour) telah ada sepanjang sejarah manusia. Yang perlu menjadi perhatian adalah, tindakan atau perilaku bunuh diri terjadi disebabkan karena beberapa faktor yang rumit (kompleks). Menjadi keprihatinan bersama, bahwa perilaku bunuh diri secara faktual meningkat pada semua negara di dunia, dan dalam beberapa dekade terakhir telah mencapai tingkat statistik yang mengkhawatirkan.

WHO (World Health Organization) telah menjadikan bunuh diri sebagai masalah prioritas pada beberapa tahun terakhir. Ini menjadi tanda dan peringatan penting bagi setiap negara, agar memberikan perhatian lebih perihal bunuh diri dan upaya penanggulangannya. Tindakan bunuh diri sesungguhnya telah menarik perhatian sebagian besar bidang studi selama berabad-abad. Tindakan  bunuh diri telah dieksplorasi oleh filsafat, agama, kedokteran, sosiologi, bioetika, hukum, dan psikologi, dan bidang-bidang lainnya dalam rangka mendapatkan formulasi praktis upaya pencegahan yang dapat dilakukan.

Menurut WHO, lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri per tahun. Bunuh diri telah menjadi penyebab utama kematian di antara orang berusia 15 s.d 29 tahun. Terkait hal ini, ada kekeliruan pandangan dalam masyarakat awam. Mereka sering meyakini hanya orang dewasa yang menunjukkan perilaku bunuh diri. Tetapi data dan fakta menunjukkan, bahwa ada banyak anak-anak dan remaja terlibat dalam tindakan bunuh diri sebagai akibat dari kekerasan, pelecehan seksual, penindasan (bullying) secara langsung, dan penindasan melalui media sosial.

Bunuh diri sesungguhnya adalah masalah kesehatan masyarakat sedunia. Tindakan bunuh diri patut mendapat perhatian semua pihak yang berkarya di bidang kesehatan mental, termasuk organisasi ilmiah dan profesional, organisasi konsumen kesehatan mental dan keluarga mereka, serta lembaga pendidikan.
Kejadian bunuh diri sesungguhnya patut mendapat perhatian khusus dari otoritas kesehatan baik nasional/provinsial/kota/kabupaten, karena merupakan tanggung jawab mereka untuk menyusun kebijakan dan arahan yang bertujuan membangun strategi untuk mencegah bunuh diri dan mempromosikan kesehatan mental masyarakat.

Peran media cetak dan audiovisual serta media sosial juga tidak kalah penting. Karena partisipasi media memiliki efek positif maupun negatif, bergantung pada bagaimana mereka memposisikan diri dan berpandangan, membuat kebijakan, dan membuahkan karya pemberitaan tentang problematika bunuh diri. Hasil riset menunjukkan, ada berbagai faktor rumit (kompleks) yang menyebabkan dan memicu tindakan bunuh diri. Tidak mudah dan tidak bijakana pula untuk melakukan simplifikasi faktor penyebab atau faktor pencetus tindakan bunuh diri yang sejatinya sangat rumit tersebut.

Sesungguhnya, apa yang dimaksud perilaku bunuh diri (suicidal behaviour)? Definisi paling terkenal, dan dalam pandangan Alberto Trimboli serta para pegiat kesehatan mental adalah definisi yang diartikulasikan Durkheim dalam karyanya Bunuh Diri (Suicide). Esai Durkheim tersebut merupakan salah satu penjelasan ilmiah dan berbasis bukti (evidence based) tentang bunuh diri yang paling jelas (clear). Dalam tulisan tersebut, Durkheim mendefinisikan bunuh diri sebagai istilah “diterapkan pada semua kasus kematian akibat secara langsung atau tidak langsung dari tindakan positif atau negatif korban sendiri, yang ia tahu akan menghasilkan hasil dari tindakan itu.”

Karena itu, tujuan menjadikan pencegahan bunuh diri sebagai tema Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2019 adalah untuk menarik perhatian pemerintah di setiap negara, agar masalah tersebut dapat diprioritaskan dalam agenda kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Tujuan lain dari peringatan hari kesehatan jiwa yang ingin dicapai adalah, agar membuat orang terbiasa untuk berbicara tentang suatu topik yang cenderung dianggap “tabu dan banyak orang berpendapat keliru, penuh prasangka negatif, atau menjadi bahan ejekan/cemoohan”. Hal ini akan membantu masyarakat luas untuk dapat belajar tentang faktor-faktor risiko tindakan bunuh diri, sehingga setiap orang dapat mengidentifikasi dan belajar untuk mengatasinya.

Alberto Trimboli menegaskan, bahwa bunuh diri dapat dicegah, dan karenanya dapat dihindari. Itulah sebabnya semua upaya dan kebijakan publik harus fokus pada upaya pencegahan.
Permasalahan riil yang jamak dan sering dihadapi, masih ada orang yang sedang menghadapi krisis kejiwaan dan/atau orang yang menderita gangguan mental tidak memiliki akses atau kesulitan mendapatkan akses ke layanan kesehatan mental.

Trimboli juga menyatakan, upaya pencegahan bunuh diri membutuhkan dukungan semua orang. Pencegahan bunuh diri adalah kerja bersama, perlu kerja sama satu sama lain. Karena itu, WFMH mengundang setiap orang untuk bergabung dalam kampanye untuk Hari Kesehatan Mental 2019, dan untuk membuat perubahan besar di seluruh dunia tentang masalah yang sangat penting ini. Mari kita bekerja, dan bekerja sama sesuai kapasitas kita masing-masing!

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Puskesmas Tajurhalang

Kesehatan Jiwa Tanggung Jawab Bersama


Pada tahun 2019 Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) telah menetapkan “pencegahan bunuh diri” sebagai tema utama Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati pada tanggal 10 Oktober 2019.
Presiden WFMH (World Federation for Mental Health) Alberto Trimboli PhD mengingatkan, tindakan bunuh diri (suicidal behaviour) telah ada sepanjang sejarah manusia. Yang perlu menjadi perhatian adalah, tindakan atau perilaku bunuh diri terjadi disebabkan karena beberapa faktor yang rumit (kompleks). Menjadi keprihatinan bersama, bahwa perilaku bunuh diri secara faktual meningkat pada semua negara di dunia, dan dalam beberapa dekade terakhir telah mencapai tingkat statistik yang mengkhawatirkan.

WHO (World Health Organization) telah menjadikan bunuh diri sebagai masalah prioritas pada beberapa tahun terakhir. Ini menjadi tanda dan peringatan penting bagi setiap negara, agar memberikan perhatian lebih perihal bunuh diri dan upaya penanggulangannya. Tindakan bunuh diri sesungguhnya telah menarik perhatian sebagian besar bidang studi selama berabad-abad. Tindakan  bunuh diri telah dieksplorasi oleh filsafat, agama, kedokteran, sosiologi, bioetika, hukum, dan psikologi, dan bidang-bidang lainnya dalam rangka mendapatkan formulasi praktis upaya pencegahan yang dapat dilakukan.

Menurut WHO, lebih dari 800.000 orang meninggal karena bunuh diri per tahun. Bunuh diri telah menjadi penyebab utama kematian di antara orang berusia 15 s.d 29 tahun. Terkait hal ini, ada kekeliruan pandangan dalam masyarakat awam. Mereka sering meyakini hanya orang dewasa yang menunjukkan perilaku bunuh diri. Tetapi data dan fakta menunjukkan, bahwa ada banyak anak-anak dan remaja terlibat dalam tindakan bunuh diri sebagai akibat dari kekerasan, pelecehan seksual, penindasan (bullying) secara langsung, dan penindasan melalui media sosial.

Bunuh diri sesungguhnya adalah masalah kesehatan masyarakat sedunia. Tindakan bunuh diri patut mendapat perhatian semua pihak yang berkarya di bidang kesehatan mental, termasuk organisasi ilmiah dan profesional, organisasi konsumen kesehatan mental dan keluarga mereka, serta lembaga pendidikan.
Kejadian bunuh diri sesungguhnya patut mendapat perhatian khusus dari otoritas kesehatan baik nasional/provinsial/kota/kabupaten, karena merupakan tanggung jawab mereka untuk menyusun kebijakan dan arahan yang bertujuan membangun strategi untuk mencegah bunuh diri dan mempromosikan kesehatan mental masyarakat.

Peran media cetak dan audiovisual serta media sosial juga tidak kalah penting. Karena partisipasi media memiliki efek positif maupun negatif, bergantung pada bagaimana mereka memposisikan diri dan berpandangan, membuat kebijakan, dan membuahkan karya pemberitaan tentang problematika bunuh diri. Hasil riset menunjukkan, ada berbagai faktor rumit (kompleks) yang menyebabkan dan memicu tindakan bunuh diri. Tidak mudah dan tidak bijakana pula untuk melakukan simplifikasi faktor penyebab atau faktor pencetus tindakan bunuh diri yang sejatinya sangat rumit tersebut.

Sesungguhnya, apa yang dimaksud perilaku bunuh diri (suicidal behaviour)? Definisi paling terkenal, dan dalam pandangan Alberto Trimboli serta para pegiat kesehatan mental adalah definisi yang diartikulasikan Durkheim dalam karyanya Bunuh Diri (Suicide). Esai Durkheim tersebut merupakan salah satu penjelasan ilmiah dan berbasis bukti (evidence based) tentang bunuh diri yang paling jelas (clear). Dalam tulisan tersebut, Durkheim mendefinisikan bunuh diri sebagai istilah “diterapkan pada semua kasus kematian akibat secara langsung atau tidak langsung dari tindakan positif atau negatif korban sendiri, yang ia tahu akan menghasilkan hasil dari tindakan itu.”

Karena itu, tujuan menjadikan pencegahan bunuh diri sebagai tema Hari Kesehatan Mental Sedunia tahun 2019 adalah untuk menarik perhatian pemerintah di setiap negara, agar masalah tersebut dapat diprioritaskan dalam agenda kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Tujuan lain dari peringatan hari kesehatan jiwa yang ingin dicapai adalah, agar membuat orang terbiasa untuk berbicara tentang suatu topik yang cenderung dianggap “tabu dan banyak orang berpendapat keliru, penuh prasangka negatif, atau menjadi bahan ejekan/cemoohan”. Hal ini akan membantu masyarakat luas untuk dapat belajar tentang faktor-faktor risiko tindakan bunuh diri, sehingga setiap orang dapat mengidentifikasi dan belajar untuk mengatasinya.

Alberto Trimboli menegaskan, bahwa bunuh diri dapat dicegah, dan karenanya dapat dihindari. Itulah sebabnya semua upaya dan kebijakan publik harus fokus pada upaya pencegahan.
Permasalahan riil yang jamak dan sering dihadapi, masih ada orang yang sedang menghadapi krisis kejiwaan dan/atau orang yang menderita gangguan mental tidak memiliki akses atau kesulitan mendapatkan akses ke layanan kesehatan mental.

Trimboli juga menyatakan, upaya pencegahan bunuh diri membutuhkan dukungan semua orang. Pencegahan bunuh diri adalah kerja bersama, perlu kerja sama satu sama lain. Karena itu, WFMH mengundang setiap orang untuk bergabung dalam kampanye untuk Hari Kesehatan Mental 2019, dan untuk membuat perubahan besar di seluruh dunia tentang masalah yang sangat penting ini. Mari kita bekerja, dan bekerja sama sesuai kapasitas kita masing-masing!

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Puskesmas Tajurhalang

Kamis, 12 September 2019

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut


Hari kesehatan gigi dan mulut nasional diperingati pada tanggal 12 September tiap tahunnya. Kesehatan gigi dan mulut penting untuk diperhatikan sejak dini. Hal dasar yang paling penting untuk kesehatan gigi dan mulut adalah dengan gosok gigi pada pagi setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur secara rutin. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan, dari 94,7% masyarakat yang menyikat gigi setiap hari, hanya 2,8% yang melakukannya di waktu yang tepat yaitu dua kali sehari, pagi dan malam.

Hal ini menunjukkan masyarakat belum terbiasa untuk melakukan kegiatan menggosok gigi secara rutin. Terlebih lagi gosok gigi di malam hari untuk anaka-anak belum dibiasakan. Padahal menggosok gigi apalagi pada malam hari harus dibiasakan sedini mungkin karena terdapat akumulasi mikroorganisme tinggi saat tidur yang berpengaruh ke proses kerusakan gigi. Kebanyakan anak maupun orang dewasa tidak sikat gigi di malam hari karena seharian sudah lelah, malam langsung tidur. Karenanya, ini harus diubah dengan cara membuatnya jadi sebuah kebiasaan. Sikat gigi di malam hari harus dilakukan tepat sebelum tidur.

Akibat menggosok gigi yang tidak rutin dapat membuat gigi rusak dan keropos. Terlebih lagi gigi orang dewasa sudah menjadi gigi tetap. Jika giginya berlubang, keropos dan habis tidak ada gantinya lagi. Gigi berlubang adalah masalah umum yang dialami banyak orang. Lubang bisa terbentuk di gigi mulai dari ronggal kecil dan akan membesar secara bertahap. Gigi berlubang bisa disebabkan berbagai faktor. Ini bisa termasuk kombinasi antara penumpukan bakteri di mulut, malas membersihkan gigi, dan kebiasaan makan makanan manis. 

Siapa pun yang memiliki gigi dapat mengembangkan gigi berlubang, termasuk bayi. Beberapa kasus gigi berlubang ringan memang tidak menimbulkan rasa sakit. Ini menyebabkan orang begitu mengesampingkan dampak negatif dari gigi berlubang ini. Gigi berlubang bisa menyimpan bakteri merugikan. Bakteri-bakteri ini tak hanya buruk untuk kesehatan mulut, melainkan bisa memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bakteri pada gigi berlubang bisa menyebabkan infeksi parah jika tak segera ditangani dan dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti abses gigi, gingivitis (peradangan gusi), infeksi gusi (periodontitis), sinusitis,penyakit jantung. Oleh karena itu penting sekali untuk menggosok gigi secara rutin dan juga memeriksakan kesehatan gigi dan mulut secara berkala .

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Puskesmas Tajurhalang

Rabu, 07 Agustus 2019

Ayah Sosok Kunci Keberhasilan ASI Anak


ASI (Air Susu Ibu) merupakan hak setiap bayi yang lahir ke dunia. Hak ini seharusnya diberikan oleh setiap ibu kepada bayinya sampai dengan anak usia 2 tahun. Bayi baru lahir sampai dengan usia 6 bulan cukup diberikan ASI saja tanpa makanan pendamping lain, atau yang disebut dengan ASI Eksklusif. ASI Eksklusif cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi baru lahir sampai dengan bayi usia 6 bulan. Tidak hanya itu, ASI bukan hanya sebagai makanan bagi bayi, tetapi juga menambah nilai bagi kognitifnya. Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan.

Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik bagi bayi. Pemberian ASI Eksklusif sampai 6 bulan dan tetap dilanjutkan sampai dengan 2 tahun tentunya mempunyai beberapa keuntungan untuk anak, antara lain : 1) mengandung berbagai enzim untuk membantu proses pencernaan, 2) kandungan gizi yang lengkap dan optimal sesuai kebutuhan perkembangan bayi, 3) memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit, 4) menurunkan risiko alergi pada bayi dengan riwayat keluarga menderita alergi, 5) ASI dapat diminum setiap saat (tidak perlu menunggu), 6) ASI meningkatkan perkembangan otak yang optimal, 7) menyusu langsung dari puting ibu akan membuat perkembangan rahang dan gigi yang baik, serta 8) Kedekatan dengan ibu akan lebih berkembang.

Selain itu, untuk si ibu, pemberian ASI mempunyai beberapa manfaat : 1) mengurangi kemungkinan perdarahan pasca persalinan, 2) menghemat waktu karena ibu tidak perlu repot membersihkan dan melakukan sterilisasi botol susu dan juga mempersiapkan susu, 3) lebih mudah di saat berpergian karena tidak perlu membawa perlengkapan susu formula, botol, termos air dan berbagai perlengkapan lain yang merepotkan, 4) Sangat mengurangi biaya bulanan untuk membeli susu formula, 5) Kedekatan anak pada ibu menjadi lebih mendalam, dan 6) dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kanker payudara dan indung telur.

WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif, antara lain : 1) Inisiasi Menyusu Dini (IMD), 2) Menyusui dalam satu jam setelah kelahiran , 3) Menyusui secara ekslusif: hanya ASI. Artinya, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun, 3) Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan malam, 4) Tidak menggunakan botol susu maupun empeng, 5) Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak, serta 6) Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang.

Bagi ibu yang di rumah, memberikan ASI bukanlah sesuatu yang berat karena setiap saat Ibu bisa memberikan ASInya kapan saja bayi mau. Namun tentunya bagi ibu yang bekerja bukanlah menjadi halangan untuk tetap memberikan ASI, karena Ibu bias menyimpan ASI di botol yang dimasukkan ke dalam kulkas, atau yang disebut dengan ASI Perah (ASIP). Ibu bisa melakukannya dengan memerah ASI di rumah dan di kantor tiap 2 jam sekali kemudian disimpan di botol. ASI perah yang disimpan di kulkas mempunyai ketahanan yang bagus, asal penyimpanannya benar. Berikut daya tahan ASI yang disimpan di dalam kulkas : 1) ASIP yang disimpan di suhu ruangan dapat bertahan 4-6 jam, 2)ASIP  yang disimpan di dalam termos berisi es batu akan tahan 24 jam, 3) ASIP yang disimpan di lemari es bawah (chiller) tahan 4 hari, 4) ASIP yang dibekukan dan disimpan di freezer kulkas 1 pintu tahan 2 minggu, di freezer kulkas 2 pintu tahan 3 bulan.

Tanggal 1 s.d tanggal 7 Agustus diperingati sebagai pekan ASI sedunia. Hal ini tentunya mengingatkan kita, bahwa ASI itu penting dan harus diberikan kepada anak. Peringatan pekan ASI di tahun ini mengusung tema “Ayah dan Ibu Kunci Keberhasilan Menyusui”. Peran dukungan ayah menjadi hal yang sangat penting bagi kesuksesan ASI anak. Marilah para ayah untuk mendukung pemberian ASI bagi buah hatinya!

Oleh : Niswatun Nafi’ah, SKM
Penyuluh Kesehatan Masyarakat Ahli Muda Puskesmas Tajurhalang

Pembinaan Pos UKK Jolie Jaya Snack Desa Tonjong

Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja) merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat di sektor pekerja informal pada upaya promotif dan preve...